Manchester United, yang pernah menjadi raksasa sepak bola Inggris dan Eropa, kini sedang menghadapi masa sulit yang membuat para penggemar dan pengamat kecewa. Klub yang identik dengan kesuksesan besar, seperti gelar-gelar Premier League dan trofi Liga Champions, saat ini berjuang untuk kembali ke puncak. Ada apa di balik penurunan performa ini? Dari masalah manajemen hingga performa pemain yang mengecewakan, artikel ini akan mengupas alasan utama mengapa Manchester United terpuruk, berdasarkan informasi terkini dan diskusi yang ramai di kalangan pecinta sepak bola. bolacerdas.id
Manajemen dan Kepemilikan Bermasalah
Salah satu penyebab utama kemerosotan Manchester United adalah manajemen dan kepemilikan di bawah keluarga Glazer. Sejak mengambil alih klub pada 2005, Glazers menuai kritik keras karena pendekatan finansial mereka. Akuisisi klub dilakukan melalui utang besar, yang hingga kini masih membebani keuangan Manchester United. Akibatnya, dana untuk merekrut pemain top atau memperbarui infrastruktur klub menjadi terbatas. Banyak penggemar di media sosial menyuarakan kekhawatiran bahwa klub berada dalam “tekanan finansial akibat utang dan pengeluaran yang tidak efisien.” Glazers sering dituduh lebih mementingkan keuntungan pribadi ketimbang kejayaan klub, sebuah pendekatan yang telah melemahkan daya saing United di pasar transfer. Stadion Old Trafford yang mulai usang juga menjadi bukti kurangnya investasi, terutama jika dibandingkan dengan fasilitas modern milik rival seperti Manchester City atau Liverpool.
Performa Pemain yang Menurun
Performa pemain kunci menjadi sorotan berikutnya. Marcus Rashford, yang musim lalu mencetak 30 gol dan menjadi tumpuan tim, kini kesulitan menemukan ketajamannya. Penurunan ini memberi tekanan ekstra pada penyerang lain seperti Rasmus Hojlund, yang meski mencetak lima gol di Liga Champions, belum membuka keran golnya di Premier League. Bukan hanya mereka, pemain berpengalaman seperti Casemiro dan Raphael Varane, yang didatangkan dengan harapan besar, juga gagal bersinar. Casemiro tampak kurang adaptif dengan ritme Premier League, sementara Varane sering absen karena cedera. Data menunjukkan bahwa setelah 14 pertandingan liga, United hanya mencetak 16 gol—jumlah terendah di antara 10 tim teratas. Ketergantungan pada talenta muda seperti Alejandro Garnacho memang menjanjikan untuk masa depan, tapi belum cukup untuk mengangkat tim saat ini.
Krisis Cedera yang Tak Kunjung Usai
Cedera menjadi momok besar bagi Manchester United musim ini. Banyak pemain inti, terutama di lini belakang dan tengah, absen dalam waktu lama, mengacauk ritme permainan tim. Pada satu titik, Erik ten Hag kehilangan hingga 16 pemain utama akibat cedera. Kondisi ini memaksa pelatih untuk terus mengubah formasi dan strategi, yang pada akhirnya menghambat konsistensi tim. Tanpa kekuatan penuh, United kesulitan menjaga soliditas pertahanan maupun membangun serangan yang efektif. Kurangnya kohesi antarpemain akibat rotasi terus-menerus makin memperparah situasi.
Keputusan Taktis yang Kontroversial
Erik ten Hag, sang manajer, juga tak luput dari kritik. Setelah musim pertama yang cukup sukses, tahun keduanya diwarnai keputusan taktis yang dipertanyakan. Salah satu contoh adalah saat ia mencoret Varane dan Sergio Reguilón dari starting lineup di derby Manchester, yang berakhir dengan kekalahan telak 3-0. Gaya permainan pressing tinggi yang ia terapkan juga dinilai kurang cocok dengan komposisi skuad saat ini, sering kali membuat United rentan terhadap serangan balik lawan. Penempatan Rashford di posisi yang tidak ideal, seperti striker tengah atau sayap kanan, padahal ia lebih produktif di sayap kiri, turut memicu perdebatan. Pendekatan disiplin kerasnya, seperti yang terlihat dalam kasus Jadon Sancho, juga tampaknya tidak sepenuhnya diterima oleh semua pemain, menambah ketegangan di ruang ganti.
Produktivitas Gol yang Memprihatinkan
Ketajaman di depan gawang menjadi masalah krusial lainnya. Dengan hanya 16 gol dari 14 laga Premier League, United jauh tertinggal dari rival-rivalnya dalam hal produktivitas. Ketergantungan pada Rashford dan Hojlund yang sedang tidak konsisten membuat lini serang tim kehilangan daya dobrak. Tim juga sering kehilangan poin karena kebobolan tak lama setelah mencetak gol, menunjukkan kurangnya kontrol permainan. Pola serangan yang kurang kreatif dan minimnya peluang bersih memperlihatkan bahwa strategi ofensif United saat ini tidak cukup efektif untuk bersaing di level tertinggi.
Bayang-Bayang Kejayaan Masa Lalu
Perbandingan dengan era keemasan di bawah Sir Alex Ferguson tak bisa dihindari. Selama 26 tahun kepemimpinannya, United meraih 13 gelar Premier League, lima Piala FA, dan dua Liga Champions—standar yang sulit ditandingi. Tekanan untuk menyamai kesuksesan tersebut terus menghantui klub, dan kegagalan memenuhinya menimbulkan frustrasi besar. Saat ini, United jauh dari image tim yang ditakuti di kompetisi domestik maupun Eropa, sebuah kontras yang memperdalam kekecewaan penggemar.
Kesimpulan
Manchester United sedang terpuruk karena kombinasi berbagai masalah: kepemilikan yang bermasalah, performa pemain yang menurun, cedera yang meluas, keputusan taktis yang kurang tepat, dan ketidakmampuan mencetak gol secara konsisten. Beban sejarah klub yang gemilang membuat setiap kegagalan terasa lebih menyakitkan. Meski begitu, ada secercah harapan. Perubahan potensial dalam kepemilikan dan strategi pembangunan tim bisa menjadi langkah awal menuju kebangkitan. Namun, untuk saat ini, perjalanan menuju pemulihan masih panjang dan penuh rintangan.